




Tepat pukul 08.00 WITA, semua orang telah berkumpul di atas kapal yang tengah bersandar di tepian Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Tujuan perjalanan menuju Pulau Barrang Caddi, sekitar 45 menit perjalanan laut. Beberapa penumpang mencoba menjelajahi kapal tiga tingkat tersebut hingga berfoto di bagian geladak, sedangkan yang lainnya memilih berdiskusi sambil menyantap hidangan yang tersedia di atas meja.
Ini bukan sekedar perjalanan, melainkan diskusi di atas kapal pinisi yang digelar oleh Ananta Fund, bekerja sama dengan Yayasan PIRAC dan Perkumpulan Filantropi Indonesia Chapter Sulawesi Selatan. Diskusi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk menjaring potensi kolaborasi antara berbagai lembaga dan Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) lokal di khususnya di kawasan tengah dan timur Indonesia.
“Pinisi memiliki sejarah panjang yang mencerminkan semangat kebersamaan dalam bekerja. Prinsip ini juga menjadi nilai yang dijunjung oleh Yayasan KEHATI, yang menekankan pentingnya kerja kolektif dalam mencapai tujuan bersama,” ujar Dr. Rony Megawanto, Direktur Program Yayasan KEHATI, saat membuka acara. Ia menambahkan kolaborasi dan kemitraan dengan lembaga lokal diharapkan dapat menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 21 Februari 2025 ini dihadiri oleh banyak lembaga, yakni Yayasan BaKTI, Rumah Zakat, Baznas Provinsi Sulawesi Selatan, Baznas Kota Makassar, Tenaga Ahli Gubernur Makassar Terpilih untuk CSR, Yayasan Kalla, Human Initiative, dan Inanta. Sejumlah OMS asal Makassar juga turut serta: Yayasan Kitaji Pinisi, Yayasan MAUPE, dan Yayasan Cita Tanah Mahardika.
Masing-masing lembaga memperkenalkan lingkup kegiatan dan program kerja, serta potensi kolaborasi apa yang bisa dilakukan bersama, “Human Initiative menjalankan berbagai program yang berfokus pada anak dan pendidikan anak, serta penanggulangan bencana, baik dalam bentuk penyelamatan maupun pengurangan risiko bencana. Kami juga terbuka untuk menjalin kemitraan dengan berbagai mitra lokal guna memperluas dampak program yang dijalankan,” ungkap Nurhayani yang merupakan perwakilan dari Human Initiative.
Lebih lanjut Yani menjelaskan, Human Initiative tidak hanya bermitra dengan organisasi lokal, melainkan juga dengan berbagai organisasi internasional di antaranya dari Turki dan Dubai, baik untuk tujuan penelitian maupun implementasi program. Setiap program yang dijalankan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, kolaborasi, serta keberlanjutan.
Sementara itu perwakilan BAZNAS Provinsi Sulawesi Selatan, Kamarudin Nasar menyampaikan saat ini lembaga tersebut telah beroperasi di 24 kabupaten/kota dengan menjalankan program yang telah ditetapkan secara nasional, di antaranya mencakup bantuan kemanusiaan, layanan kesehatan melalui Rumah Sehat BAZNAS, pemberdayaan ekonomi seperti ZMart, pendampingan masyarakat, serta advokasi dan dakwah.
“BAZNAS terbuka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, namun tetap berpegang pada ketentuan penerima manfaat (beneficiaries) yang harus sesuai dengan delapan asnaf (delapan golongan orang yang berhak menerima zakat) sebagaimana diatur dalam syariat Islam,” pungkasnya.
Diskusi ini ditindaklanjuti dengan sejumlah usulan kegiatan, salah satunya rencana inisiasi program Ramadan di Pulau Barrang Caddi, yang juga melibatkan salah satu mitra Yayasan KEHATI, Yayasan Kitaji Pinisi.
Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun sinergi antarlembaga khususnya kolaborasi dengan mitra lokal. Kolaborasi yang terjalin diharapkan dapat membuka jalur kolaborasi baru yang berdampak positif bagi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.








