
Bagi sebagian besar masyarakat di perkotaan, menabung berarti menyisihkan sebagian uang ke rekening bank atau memutarnya melalui instrumen investasi digital. Namun, di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Desa Oeletsala, investasi bukan berasal dari lembaran kertas atau fluktuasi angka di layar gawai, melainkan dari sapi sehat yang juga menjadi ide bisnis Yayasan Masyarakat Tangguh Sejahtera (Marungga).
Masyarakat NTT mengenal tradisi ini sebagai "Tabungan Ternak"—sebuah kearifan lokal yang menjadikan hewan ternak sebagai instrumen keuangan keluarga. Tabungan ternak dinilai memiliki peluang bisnis yang sangat potensial di NTT dengan tingkat risiko kerugian yang relatif kecil. Bagaimana skema ini berjalan?
“Organisasi hanya perlu menyediakan modal awal berupa pembelian ternak sapi, sementara kebutuhan pakan serta tenaga untuk pemeliharaan ditanggung oleh pihak pemelihara. Model usaha ini tidak hanya meringankan biaya operasional organisasi, tetapi juga membuka ruang kerja sama yang saling menguntungkan dengan masyarakat,” jelas Ketua Yayasan Marungga, Desinta Wati Futboe.
Dalam mengelola bisnis ini sejak 2019 silam, Marungga berpegang pada sejumlah prinsip agar membangun kemitraan yang adil, berkelanjutan, dan saling menguntungkan antara organisasi dan masyarakat. Metode yang digunakan yakni melalui:
- Perhitungan modal dan sistem pembagian hasil yang jelas
Marungga menyediakan modal awal sebesar Rp7juta untuk membeli satu ekor sapi. Selama periode penggemukan, pemelihara bertanggung jawab dalam merawat ternak. Setelah sapi terjual, pemelihara diharuskan mengembalikan modal awal kepada Marungga, dan hasil keuntungan akan dibagi dengan rincian sebagai berikut:
60% dialokasikan untuk pemelihara sebagai bentuk apresiasi jasa dan pemeliharaan rutin;
40% diserahkan kepada Marungga guna menjamin keberlangsungan operasional serta pengembangan jangkauan program.
Penerapan model ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepemilikan bersama sekaligus menghadirkan dampak ekonomi yang signifikan bagi kesejahteraan masyarakat desa. - Memilih pemelihara yang memiliki komitmen
Sebelum menentukan calon pemelihara, Marungga terlebih dahulu membangun komunikasi dan diskusi bersama masyarakat di wilayah sasaran program. Proses dilakukan untuk memastikan usaha tabungan ternak dijalankan oleh individu yang memiliki kesiapan, tanggung jawab, dan komitmen dalam pengembangan ternak sapi.
Selain itu, Marungga juga menaruh perhatian khusus bagi pemuda desa yang memiliki fleksibilitas waktu untuk memelihara dan mengembangkan bisnis tabungan ternak. Strategi ini dilakukan guna membuka peluang ekonomi, serta mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam usaha produktif desa sekaligus memperkuat ketahanan finansial keluarga.
Tabungan Ternak sebagai Budaya dan Investasi
Marungga mempertimbangkan secara cermat konsep tabungan ternak sebagai gagasan bisnis dengan menganalisis potensi, risiko, serta keterkaitan yang erat dengan nilai-nilai budaya masyarakat di NTT.
“Usaha ternak sapi sangat dekat dengan kehidupan masyarakat setempat sehingga lebih mudah dijalankan dan dikembangkan secara berkelanjutan. Desa Oeletsala sebagai wilayah sasaran program memiliki masyarakat yang pada umumnya berprofesi sebagai peternak sapi. Kondisi ini menjadi kekuatan tersendiri karena masyarakat telah memiliki pengalaman dan pengetahuan dasar dalam pengelolaan ternak.”
Tabungan ternak dinilai sebagai bentuk tabungan jangka pendek hingga menengah yang memberikan keuntungan ekonomi cukup jelas. Hasil penjualan biasanya dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan penting keluarga, di antaranya biaya pendidikan anak, pembangunan atau perbaikan rumah, kebutuhan kesehatan, modal usaha, maupun kebutuhan adat dan sosial lainnya.
“Oleh karena itu, tabungan ternak tidak hanya membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga menjadi bentuk ketahanan keuangan masyarakat dalam menghadapi kebutuhan mendesak di masa depan.”
Tantangan Manajemen Pemeliharaan Sapi
Kebutuhan utama dalam pemeliharaan ternak adalah tenaga untuk merawat serta ketersediaan pakan yang umumnya mudah diperoleh di wilayah NTT, terutama rumput alam maupun limbah pertanian. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, masyarakat dapat menjalankan tabungan ternak tanpa biaya operasional yang terlalu besar.
Sementara itu, guna meminimalisir adanya risiko kematian ternak hingga terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku yang umumnya menyerang hewan berkuku belah seperti sapi, Marungga memastikan pembelian bibit ternak dilakukan secara selektif dengan memilih sapi yang sehat dan berkualitas baik berusia kurang lebih satu tahun. Selama masa pemeliharaan, pemelihara wajib melakukan vaksinasi minimal dua kali sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit.
“Pendampingan dan pengawasan rutin juga dilakukan untuk memastikan kesehatan ternak tetap terjaga dengan baik. Sementara itu, dalam menghadapi fluktuasi harga pasar, strategi yang dilakukan adalah menentukan waktu penjualan yang tepat.”
Marungga memanfaatkan momen jelang Iduladha sebagai peluang emas dalam menjual sapi, mengingat adanya lonjakan permintaan pasar yang signifikan terhadap kebutuhan daging. Melalui manajemen waktu penjualan yang strategis, inisiatif tabungan ternak pun diproyeksikan mampu menghasilkan keuntungan maksimal serta berdampak pada keberlanjutan lembaga.
Menjaga Keseimbangan Misi
Sampai saat ini, Marungga telah melakukan tiga periode penjualan sapi dengan estimasi keuntungan mencapai Rp10juta. Sejak awal, Marungga berkomitmen untuk merangkul warga sekitar dalam menggerakkan perekonomian lokal demi mewujudkan cita-cita kemandirian dan keberlanjutan.
“Marungga memiliki mimpi untuk bisa mengembangkan lebih banyak sapi dari jumlah saat ini, dan dapat bekerja sama dengan lebih banyak keluarga.”
Desi, sapaan Ketua Yayasan Marungga juga memastikan usaha ini tidak akan mengganggu misi sosial mereka, salah satunya program pendidikan yang dijalankan di Kabupaten Kupang.
“Marungga memastikan usaha ini tetap berjalan dengan melakukan monitoring, baik melalui kunjungan langsung maupun lewat komunikasi pesan singkat,” pungkasnya.
***
Catatan: Yayasan Masyarakat Tangguh Sejahtera merupakan salah satu OMS Mitra Penerima Hibah Ananta Fund pada Siklus Hibah ke-3, "Inkubasi Pengembangan Bisnis untuk Mendukung Keberlanjutan Organisasi," pada 2025 lalu. Kegiatan lembaga ini berfokus pada nilai-nilai budaya lokal, perlindungan terhadap perempuan dan anak, kesetaraan gender, hingga perubahan iklim.
Informasi kontak:
Instagram: marungga7
Email: [email protected]