Skip to the content
ANANTA FUND
  • Beranda
  • Berita
  • Galeri
  • Hasil Pencarian
  • Info Hibah
  • Jejaring Kerja
  • Kebijakan Privasi
  • Kolaborasi
  • Laporan Tahunan
  • Opini
  • Siaran Pers
  • Syarat & Ketentuan Website
  • Tentang Kami

Harmoni Alam dan Manusia: Konservasi Berbasis Komunitas

Admin Ananta | Juni 10, 2026
Beranda Tentang Kami Info Hibah Jejaring Kerja Kolaborasi
Publikasi
Berita Opini Siaran Pers Galeri Laporan Tahunan
  • ID
  • EN
search
menu
close
close
Beranda Tentang Kami Info Hibah Jejaring Kerja Kolaborasi
Harmoni Alam dan Manusia: Konservasi Berbasis Komunitas
10 Juni 2026
dana hibah, kesenjangan sosial, organisasi masyarakat sipil, pelestarian lingkungan, pengentasan kemiskinan, peningkatan kapasitas, perubahan iklim, ruang gerak masyarakat sipil

Di sejumlah kawasan di Makassar, deru ombak tidak lagi terdengar sebagai ancaman; kupu-kupu tidak lagi ditangkap secara liar di area perkembangbiakan; masyarakat pun dengan mudah menemukan sejumlah biota laut yang berkembang biak di area hutan bakau, semua itu berkat upaya perbaikan lingkungan yang terus digalakkan Institusi Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (IPPM) Makassar.
IPPM lahir di tengah laju eksploitasi alam yang tak terkendali dan pemanfaatan yang berlebihan. Hal ini dinilai mengakibatkan kerusakan terhadap ekosistem dan habitat lingkungan.

“Dengan berbagai persoalan kerusakan lingkungan yang memicu terjadinya kemiskinan di tingkat masyarakat, mendasari IPPM untuk melakukan pendampingan di tingkat akar rumput untuk mengelola dan memanfaatkan potensi sumber daya yang dimiliki melalui upaya nyata dalam bentuk ‘Gerakan dan Aksi’ yang berpedoman pada nilai-nilai peradaban, karakteristik, dan kearifan lokal masyarakat,” ujar Direktur Eksekutif IPPM Makassar, Hidayat Palaloi.

Prioritas Gerakan Pendampingan
IPPM menggerakkan program pendampingan masyarakat melalui tiga skala prioritas utama:

  1. Peningkatan pengetahuan dan penguatan masyarakat;
  2. Konservasi sumber daya alam; dan
  3. Pengembangan ekonomi komunitas yang berbasis lokal.

Ketiganya tidak berjalan sendiri-sendiri melainkan setiap program dirancang untuk mengacu pada tiga hal tersebut. Selain itu, guna menjamin efektivitas pelaksanaan program di lapangan, IPPM menerapkan strategi pendampingan intensif sekaligus memperkuat peran aktif dari komunitas masyarakat lokal.

IPPM Makassar aktif memfasilitasi pemulihan ekosistem mangrove di sepanjang pesisir Sulawesi Selatan yang terdampak abrasi. Upaya rehabilitasi ini tersebar di berbagai titik strategis, meliputi Lantebung di Kelurahan Bira (Kota Makassar), Binanga Sangkara di Desa Ampekale, serta beberapa wilayah di Kabupaten Barru seperti Desa Madello, Desa Pancana, dan Desa Bojo.
Program ini juga menjangkau Desa Bulucinde di Kabupaten Pangkep, Kelurahan Benteng dan Desa Paojepe di Kabupaten Wajo, hingga Desa Maroneng di Kabupaten Pinrang. Dalam inisiatif ini, IPPM tidak sekadar memberikan bantuan bibit bakau, tetapi juga membekali masyarakat setempat dengan peningkatan kapasitas melalui diskusi mendalam serta pelatihan teknis untuk memperkuat pemahaman mereka terhadap pelestarian lingkungan.

Di Desa Jenetaesa, Kabupaten Maros, sekelompok warga yang tergabung dalam KSM Nirwana mengembangkan penangkaran kupu-kupu semi natural yang berkembang biak di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Program ini memadukan konservasi keanekaragaman hayati dengan potensi wisata edukasi dan usaha kerajinan.

Semangat konservasi juga hadir di perairan Danau Tempe, Kabupaten Wajo, tempat di mana eceng gondok yang selama ini dianggap gulma perairan justru dimanfaatkan menjadi pupuk cair dan biogas.
Di Kabupaten Bone, lebah trigona menjadi sumber penghidupan baru lewat program budi daya yang kini telah berkembang menjadi brand produk madu lokal bernama Rumah Madu Bontocani.

IPPM juga mendampingi pengembangan budi daya kepiting bakau di Sinjai, rumput laut di Pinrang, hingga kopi Toraja di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat.

Memetik Kisah Baik dari Benih Perjuangan
Upaya konservasi yang dilakukan IPPM turut berhasil mendapatkan sejumlah pengakuan, di antaranya:

  1. Pemerintah Kabupaten Maros menjadikan area dampingan IPPM (Desa Ampekale) sebagai area konservasi hutan mangrove
  2. Pemerintah Kabupaten Bone menetapkan Kecamatan Bontocani sebagai sentra produksi madu trigona melalui pendekatan agroforestri dan menjadikan kelompok dampingan IPPM sebagai salah satu kelompok percontohan
  3. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadikan KSM Nirwana (kelompok dampingan IPPM Makassar) sebagai salah satu mitra dalam upaya pelestarian spesies kupu-kupu yang berkembang biak di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kab. Maros.
  4. Area penangkaran kupu-kupu dan lebah madu trigona yang dirintis IPPM kerap menjadi destinasi kunjungan berbagai kalangan
  5. Lokasi pengolahan eceng gondok menjadi pupuk cair dan biogas yang berlokasi di Kelurahan Laelo, Kecamatan Tempe dan Desa Nepo, Kecamatan Tanasitolo saat ini menjadi laboratorium sosial dan ekowisata
  6. Tiga orang dari kelompok dampingan IPPM berhasil mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah, yakni:
    • Bapak Tayyeb dari KSM Aci Tongke-tongke, Kabupaten Sinjai;
    • Bapak Abu Wenna dari KSM Makkawau, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo; dan
    • Bapak Saraba dari KSM Kampung Lantebung, Kelurahan Bira, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar

Namun yang paling berharga bukan hanya pada terbangunnya infrastruktur dan pengakuan, melainkan kesadaran dan kepedulian komunitas masyarakat dampingan yang secara tidak langsung ikut terbangun.

“Kelompok masyarakat di Desa Ampekale menunjukkan komitmen mereka dalam penanaman bibit bakau maupun merintis pembangunan ekowisata hutan mangrove. Demikian pula kelompok masyarakat pengelola penangkaran lebah madu trigona di Kelurahan Kahu dan Desa Pammusureng yang konsisten memproduksi dan memasarkan madu trigona, baik di pasar lokal hingga nasional, serta area penangkaran kupu-kupu di Desa Jenetaesa menjadi destinasi kunjungan berbagai kalangan baik tujuan studi lapang maupun berwisata.”

Keselarasan dengan Alam
Perkembangbiakan spesies kupu-kupu maupun lebah trigona menjadi dua dari sejumlah program prioritas IPPM. Inisiatif pengembangan penangkaran kupu-kupu semi-natural dilakukan akibat maraknya penangkapan kupu-kupu secara liar di area perkembangbiakkan kupu-kupu dan aktivitas eksploitasi kawasan hutan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung untuk kepentingan komersial, seperti penebangan pohon, penambangan karst untuk bahan semen, hingga penggunaan pestisida di area pertanian dan aktivitas wisata.

“Hal ini menjadi persoalan yang memicu kerusakan habitat dan ekosistem kupu-kupu, mengakibatkan populasi spesies kupu-kupu yang berkembangbiak di area Taman Nasional Bantimurung semakin berkurang dan beberapa spesies sudah punah.”

Sedangkan budi daya lebah madu trigona didasari oleh analisis kondisi iklim serta ekologi di wilayah Bontocani yang dinilai sangat ideal bagi perkembangbiakan spesies lebah tersebut serta kekhawatiran atas aktivitas penambangan yang akan berdampak buruk pada populasi lebah.

“Kegiatan penangkaran lebah trigona sudah lama telah dilakukan oleh masyarakat, namun masih terbatas untuk kebutuhan konsumsi pribadi. Dengan adanya aktivitas penambangan bijih besi di wilayah Bontocani menjadi persoalan yang rentan terhadap terjadinya kerusakan hutan maupun ekosistem dan habitat lebah trigona.”

Pada akhirnya, daftar panjang program konservasi yang dilakukan IPPM berujung pada satu keyakinan, yakni harmoni antara manusia dan alam tidak bisa dipisahkan.

“Menjaga keselarasan lingkungan hidup dan manusia sangat krusial karena manusia bergantung sepenuhnya pada alam untuk bertahan hidup. Lingkungan yang seimbang menjamin ketersediaan dan keberlanjutan sumber daya alam, mencegah bencana alam, melindungi kesehatan kualitas hidup masyarakat, serta menjaga stabilitas iklim dan membantu menyerap karbon serta meminimalisir dampak buruk perubahan iklim global. Kerusakan sekecil apa pun akan berdampak langsung pada kesejahteraan kita”

IPPM tidak hanya mengajarkan masyarakat cara menanam bakau atau beternak lebah. Mereka mengajarkan bahwa merawat bumi adalah akar bagi kehidupan.

Referensi Karya Literasi IPPM
IPPM Makassar melalui Direktur Eksekutif, Hidayat Palaloi, telah menerbitkan sejumlah judul buku sebagai upaya penyebarluasan inisiatif perbaikan lingkungan, di antaranya:

  1. Sebuah buku berjudul "Sang Pemimpi Besar" yang mendokumentasikan dedikasi dan kolaborasi Hidayat Palaloi bersama warga Desa Tongke-tongke dalam upaya memulihkan sekaligus melindungi area pesisir dari ancaman abrasi. Buku ini telah didistribusikan secara luas ke berbagai jaringan toko buku. Selain menjadi materi publik, "Sang Pemimpi Besar" juga diadopsi sebagai media pembelajaran bagi siswa di jenjang pendidikan SD, SMP, hingga SMA;
  2. Buku berjudul “Membangun Partisipasi Masyarakat Miskin Berbasis Masyarakat di Kabupaten Wajo” berisi paparan tentang upaya yang dilakukan IPPM dalam mengimplementasikan strategi pengentasan kemiskinan di 4 kecamatan Kabupaten Wajo, yakni Kecamatan Tempe, Kecamatan Tanasitol, Kecamatan Majauleng, dan Kecamatan Pammana;
  3. Tongke-tongke dalam Perspektif Pembangunan Partisipatif;
  4. Pengembangan Agribisnis Kepiting Rajungan yang Berbasis Masyarakat;
  5. Mengenal Spesies Kupu-kupu Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung;
  6. Memupuk Asa Menuai Hasil terkait pengolahan eceng gondok menjadi pupuk cair dan biogas berbasis komunitas.

  ***

Catatan: IPPM Makassar merupakan salah satu OMS Mitra Penerima Hibah Ananta Fund pada Siklus Hibah ke-3, "Inkubasi Pengembangan Bisnis untuk Mendukung Keberlanjutan Organisasi," pada 2025 lalu. Kegiatan lembaga ini berfokus pada upaya kegiatan penelitian dan konsultasi di bidang ekonomi, kesehatan masyarakat, konservasi, manajemen SDM, pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam lokal.

Informasi kontak:
Instagram: ippm_makassar_official
Email: [email protected]; [email protected]
Blogspot: https://ippmsulsel.wordpress.com/

Bagikan
Facebook
fb-share-icon
X (Twitter)
Post on X
fb-share-icon
WhatsApp
Artikel Terkait
Berita
Tabungan Ternak: Instrumen Keuangan Masyarakat NTT
26 Mei 2026
dana hibah, organisasi masyarakat sipil, pelestarian lingkungan, pengentasan kemiskinan, peningkatan kapasitas, perubahan iklim, ruang gerak masyarakat sipil
Berita
Menjaga Pendidikan Anak Papua dalam Pelukan Alam
5 Mei 2026
dana hibah, kesenjangan sosial, organisasi masyarakat sipil, pelestarian lingkungan, peningkatan kapasitas, ruang gerak masyarakat sipil
Berita
Kemandirian Ekonomi: Simbol Perlawanan Perempuan Penyintas Kekerasan
24 April 2026
dana hibah, kesetaraan gender, organisasi masyarakat sipil, peningkatan kapasitas
Ananta Fund | Yayasan KEHATI
Jl. Benda Alam I No.73, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12560
call
Tel. (+62-21) 7834-2866
Fax. (+62-21) 7834-2214
mail
[email protected]
Tentang Kami Yayasan KEHATI Kebijakan Privasi Syarat & Ketentuan Website
©2024 Ananta Fund. All rights reserved.
Categories:

Navigasi pos

← Tabungan Ternak: Instrumen Keuangan Masyarakat NTT
  • Recent Posts

    • Recent Comments

      Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
    © 2026 ANANTA FUND
    • ID
    • EN