Skip to the content
ANANTA FUND
  • About Us
  • Annual Report
  • Collaboration
  • Gallery
  • Grant Information
  • Homepage
  • Networking
  • News
  • Opinion
  • Press Release
  • Privacy Policy
  • Search Result
  • Website Terms & Conditions

Inisiatif Pemulihan Laut melalui Penanaman Terumbu Karang

Admin Ananta | June 15, 2026
Homepage About Us Grant Information Networking Collaboration
Publication
News Opinion Press Release Gallery Annual Report
  • ID
  • EN
search
menu
close
close
Homepage About Us Grant Information Networking Collaboration
Inisiatif Pemulihan Laut melalui Penanaman Terumbu Karang
15 June 2026
dana hibah, organisasi masyarakat sipil, pelestarian lingkungan, pengentasan kemiskinan, peningkatan kapasitas, perubahan iklim, ruang gerak masyarakat sipil

Anak-anak Indonesia tumbuh besar dengan lagu "Nenek moyangku seorang pelaut" ciptaan Ibu Soed. Tapi berapa banyak yang tahu betapa kayanya lautan kita?

Indonesia merupakan bangsa bahari dan menyandang predikat sebagai negara mega biodiversitas laut terbesar di dunia. Total perairan lautnya mencapai 6,4 juta kilometer persegi. Laut bukan sekadar batas wilayah, melainkan identitas, sumber pangan, kehidupan, dan anugerah yang harus dijaga.

Grafis Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF)

 

Berada di area Segitiga Terumbu Karang, kawasan seluas 6 juta kilometer persegi ini membentang melintasi 6 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste. Di sinilah rumah bagi 76% spesies karang keras dunia dengan lebih dari 3.000 spesies ikan laut hidup; enam dari tujuh spesies penyu laut dunia mencari makan dan bertelur di perairan ini. Segitiga Terumbu Karang juga menjadi area atas sumber protein hewani utama kepada lebih dari 120 juta masyarakat pesisir yang hidup di sana.

Dan lebih dari itu semua, terumbu karang adalah benteng yang bertindak sebagai pemecah ombak alami untuk melindungi ribuan pulau kecil dari abrasi, badai tropis, dan tsunami.

Meski Indonesia memiliki porsi 18% terumbu karang dunia, kehidupannya terus menghadapi ancaman. Berdasarkan data Pusat Penelitian Oseanografi LIPI melalui program COREMAP-CTI (Coral Reef Rehabilitation and Management Program — Coral Triangle Initiative) pada 2019, sekitar 25% terumbu karang Indonesia masuk dalam kategori buruk. Kerusakan terumbu karang diakibatkan dari banyak faktor destruktif, mulai dari faktor manusia, limbah, perubahan iklim, dan kerusakan vegetasi.

Harapan yang Ditanam Satu per Satu
Sebagai upaya konservasi laut, salah satu Organisasi Masyarakat Sipil asal Makassar, Yayasan Kitaji Pinisi Indonesia membawa visi besar, yakni menjadikan 11 pulau yang masuk dalam wilayah administrasi Kota Makassar dan Kepulauan Spermonde sebagai wilayah kepulauan yang terkelola dengan baik sehingga keanekaragaman hayati dapat terjaga. Salah satunya dengan pembibitan dan transplantasi terumbu karang serta memberikan edukasi tentang pentingnya transplantasi tanpa merusak habitat alami karang.

Dalam pembibitan karang, Kitaji Pinisi menggunakan metode vertikal dengan teknik pohon pembibitan karang (coral tree nursery). Teknik ini dipilih karena mudah dibuat. Bahan cukup mudah didapatkan dan relatif murah sehingga mudah diadopsi oleh kelompok masyarakat pulau dan memungkinkan pertumbuhan karang lebih cepat khususnya karang dengan bentuk pertumbuhan ‘branching’.

Konsep coral tree nursery bisa dibayangkan melalui sebuah struktur vertikal di bawah laut, menyerupai pohon dengan dahannya ditanam fragmen-fragmen karang muda yang digantung dan nantinya tumbuh perlahan. Metode vertikal dipilih berdasarkan sejumlah analisis, mulai dari posisi tegak yang akan memaksimalkan aliran arus laut hingga mengurangi efek sedimentasi yang sering memberikan dampak buruk pada bibit karang.

“Hal ini disebabkan oleh faktor pendukung pertumbuhan karang lebih optimal terjadi pada metode vertikal sebab mengoptimalkan peran arus laut, nutrien kolom air, dan kemampuan meminimalisir efek sedimentasi. Dari hasil monitoring intensif diketahui survival rate bibit karang mencapai 97% dengan pertumbuhan 2,7 mm/pekan dan penambahan jumlah percabangan karang hingga 70 fragmen,” kata Program Manager Yayasan Kitaji Pinisi Indonesia, Rahmat J. Noor.

Hingga kini, Kitaji Pinisi telah merehabilitasi area karang seluas 0,49 hektare dari target 1 hektare, dengan jumlah bibit yang dipanen dari media pembibitan metode vertikal sebanyak sekitar 4.500 fragmen.

“Keberhasilan bagi kami bukan hanya diukur dari berapa hektare karang yang tumbuh tapi bagaimana dampak langsungnya terhadap masyarakat, seperti munculnya local champion, semakin banyak orang yang memancing di sekitar area rehabilitasi, meningkatnya masyarakat yang terlibat kegiatan konservasi, perputaran roda perekonomian seperti penjualan makanan dan minuman oleh ibu-ibu pulau, hingga fungsi ekologi yang ditandai dengan semakin banyaknya jenis organisme yang membentuk rantai makanan”

Edukasi untuk Resiliensi
Namun Kitaji Pinisi sadar bahwa rehabilitasi fisik saja tidak cukup. Selama kesadaran masyarakat tidak tumbuh, kerusakan akan terus berulang. Untuk itu Kitaji Pinisi terus melakukan advokasi pentingnya pelestarian laut, mulai dari menjadikan local champion sebagai juru bicara konservasi, memfasilitasi kelompok pemuda dalam pelatihan, hingga edukasi ke anak sekolah dan menginisiasi program Sekolah Cinta Pulau (SEKOCI).

Program SEKOCI merupakan upaya Kitaji Pinisi untuk memperkenalkan lingkungan pulau serta upaya konservasi secara langsung kepada pelajar dan mahasiswa. Muatan pembelajaran terkait konservasi tidak ada di kurikulum sekolah, sehingga materi ini mengisi kekosongan yang belum dipelajari oleh para siswa. Melalui metode problem-based learning, Kitaji Pinisi menggunakan pendekatan ini untuk menangkap masalah nyata yang ada di sekitar warga pulau sendiri.

“Masyarakat di pulau tidak menyadari bahwa rutinitas yang sering mereka lakukan merupakan suatu masalah, contohnya membuang sampah di laut, menangkap ikan dengan alat bantu kompresor, hingga mengonsumsi telur penyu.”

Sebelum berangkat menuju Pulau Barrang Caddi yang menjadi lokasi pembelajaran, para peserta akan diarahkan untuk menentukan materi pembelajaran apa yang akan disampaikan ke anak-anak dan warga pulau. Selain itu, untuk semakin memudahkan pembelajaran, Kitaji Pinisi juga menyediakan alat peraga, poster, hingga media transplan sehingga peserta bersama warga dapat langsung terlibat melakukan konservasi ekosistem terumbu karang.

Arus Perubahan dari Upaya Konservasi
Melalui serangkaian upaya konservasi dan edukasi, perubahan-perubahan kecil itu mulai tampak nyata. Saat ini, Kitaji Pinisi tidak berjalan sendiri, sejumlah warga ikut tergerak melakukan perbaikan.

“Kami merasakan adanya sambutan baik oleh warga dan munculnya kesadaran warga pulau untuk mendukung kegiatan. Sebagai contoh menyerahkan telur penyu yang mereka dapatkan kepada kelompok konservasi penyu untuk ditetaskan dan dilepaskan di kemudian hari. Mereka juga ikut membantu kegiatan transplantasi seperti pembuatan spider, VAR, dan atraktor cumi secara sukarela, juga sejumlah warga yang berupaya selalu ikut dalam kegiatan-kegiatan konservasi.”

Rahmat menyebut dari sejumlah pelajar yang telah mengikuti edukasi, beberapa di antaranya memilih melanjutkan jenjang kuliah di jurusan kelautan dan perikanan. Untuk mengapresiasi semangat para pemuda dalam upaya pelestarian, Kitaji Pinisi menyediakan berbagai bentuk penghargaan, termasuk hadiah umroh bagi mereka yang aktif terlibat dalam kegiatan konservasi.

Selain itu, sinergi dengan pihak pemerintah juga semakin kuat, melalui adanya permintaan rekomendasi dari pemerintah daerah untuk memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh muda pemerhati konservasi, serta dukungan nyata berupa pengadaan peralatan selam untuk inisiatif pemulihan ekosistem laut.

Perubahan baik yang muncul bukan hanya perubahan pola pikir melainkan dari segi peningkatan perekonomian. Kini semakin banyak tamu yang berkunjung ke Pulau Barrang Caddi untuk wisata pulau berbasis konservasi, seperti membantu monitoring daerah rehabilitasi terumbu karang dan snorkeling melihat penyu di habitat aslinya.

Ombak yang Tak Selalu Tenang
Sebagaimana laut yang tidak selalu bersahabat dengan pelaut, perubahan pun pasti menemui hambatan. Dalam praktiknya, upaya menjaga laut dan membangun kesadaran kerap berhadapan dengan berbagai tantangan, salah satunya faktor keterlibatan manusia seperti gangguan eksternal para pemancing dan penyelam malam luar pulau yang tidak memahami pentingnya kawasan perlindungan, kegiatan atas nama rehabilitasi yang justru merusak ekosistem terumbu karang, hingga keterbatasan internal dalam menjangkau semua masyarakat pulau secara menyeluruh.

Memahami laut memiliki caranya sendiri untuk memberikan penghidupan, Kitaji Pinisi pun percaya tantangan merupakan bagian dari perjalanan yang perlu dihadapi.
Konservasi akan lebih berdampak melalui upaya kolektif yang saling bertaut. Ada perasaan yang tidak bisa digambarkan saat melihat indahnya warna warni terumbu karang hidup, ikan-ikan yang meliuk di antaranya seperti kilatan cahaya, juga betapa bermanfaatnya laut yang sehat bagi warga pesisir.
Sebagai bangsa bahari, laut bukan semata anugerah Tuhan, tapi kewajiban kita untuk menjaganya.

***

Catatan: Yayasan Kitaji Pinisi Indonesia merupakan salah satu OMS Mitra Penerima Hibah Ananta Fund pada Siklus Hibah ke-3, "Inkubasi Pengembangan Bisnis untuk Mendukung Keberlanjutan Organisasi," pada 2025 lalu. Kegiatan lembaga ini berfokus pada edukasi maritim dan konservasi laut.

Informasi kontak:
Instagram: kitajipinisifoundation
Email: [email protected]

Share
Facebook
fb-share-icon
X (Twitter)
Post on X
fb-share-icon
WhatsApp
Related Articles
News
Harmoni Alam dan Manusia: Konservasi Berbasis Komunitas
10 June 2026
dana hibah, kesenjangan sosial, organisasi masyarakat sipil, pelestarian lingkungan, pengentasan kemiskinan, peningkatan kapasitas, perubahan iklim, ruang gerak masyarakat sipil
News
Tabungan Ternak: Instrumen Keuangan Masyarakat NTT
26 May 2026
dana hibah, organisasi masyarakat sipil, pelestarian lingkungan, pengentasan kemiskinan, peningkatan kapasitas, perubahan iklim, ruang gerak masyarakat sipil
News
Menjaga Pendidikan Anak Papua dalam Pelukan Alam
5 May 2026
dana hibah, kesenjangan sosial, organisasi masyarakat sipil, pelestarian lingkungan, peningkatan kapasitas, ruang gerak masyarakat sipil
Ananta Fund | Yayasan KEHATI
Jl. Benda Alam I No.73, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12560
call
Tel. (+62-21) 7834-2866
Fax. (+62-21) 7834-2214
mail
[email protected]
About Us KEHATI Foundation Privacy Policy Website Terms & Conditions
©2024 Ananta Fund. All rights reserved.
Categories:

Post navigation

← Harmoni Alam dan Manusia: Konservasi Berbasis Komunitas
  • Recent Posts

    • Recent Comments

      No comments to show.
    © 2026 ANANTA FUND
    • ID
    • EN