Skip to the content
ANANTA FUND
  • About Us
  • Annual Report
  • Collaboration
  • Gallery
  • Grant Information
  • Homepage
  • Networking
  • News
  • Opinion
  • Press Release
  • Privacy Policy
  • Search Result
  • Website Terms & Conditions

Kemandirian Ekonomi: Simbol Perlawanan Perempuan Penyintas Kekerasan

Darma Foxidia | April 24, 2026
Homepage About Us Grant Information Networking Collaboration
Publication
News Opinion Press Release Gallery Annual Report
  • ID
  • EN
search
menu
close
close
Homepage About Us Grant Information Networking Collaboration
Kemandirian Ekonomi: Simbol Perlawanan Perempuan Penyintas Kekerasan
24 April 2026
dana hibah, kesetaraan gender, organisasi masyarakat sipil, peningkatan kapasitas

Suasana di rumah aman Kartini Manakarra sore itu terasa hangat. Aroma masakan yang baru matang menyeruak di antara obrolan ringan para perempuan yang sibuk mengolah adonan dan memotong sayur. Di sudut ruang, seorang penyintas nampak ragu, tangannya berhenti di atas talenan khawatir membuat kesalahan.

“Tidak apa-apa, kita masak sama-sama,” ujar salah satu pendamping.

Awalnya ia diam dan lebih banyak memperhatikan, hingga perlahan mulai ikut mengiris bawang. Meski tidak rapi, perempuan yang lain terus memberikan semangat, hingga akhirnya ia mulai ikut memasak, dan berkata “kalau kurang garam, ditambah sedikit ya?”

Kalimat sederhana yang sarat makna, karena itu pertama kalinya ia mengambil keputusan kecil dengan percaya diri.

Merekatkan yang Pernah Retak
Kartini Manakarra bermimpi untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender serta perlindungan hak-hak perempuan dan anak. Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang berlokasi di Mamuju, Sulawesi Barat ini lahir untuk memutus rantai kekerasan berbasis gender (KBG) terhadap perempuan. Memastikan fisik dan psikis yang sempat retak karena kekerasan, dapat direkatkan kembali menjadi sosok yang utuh dan berdaya.

“Kartini Manakarra memilih jalur keadilan ekonomi karena menyadari bahwa kekerasan berbasis gender sering kali berkaitan erat dengan ketergantungan ekonomi. Banyak penyintas sulit keluar dari situasi kekerasan karena tidak memiliki penghasilan atau akses terhadap sumber daya,” ujar Direktur Kartini Manakarra, Dian Daniati.

Dengan mendorong keadilan ekonomi, Kartini Manakarra ingin memastikan bahwa penyintas memiliki akses yang setara terhadap peluang kerja, keterampilan, dan sumber penghidupan, karena dengan memiliki penghasilan sendiri, mereka menjadi lebih mandiri, berdaya, dan memiliki kontrol atas keputusan hidupnya.

Pendekatan ini juga dinilai dapat membantu memutus siklus kekerasan. Penyintas yang mandiri secara ekonomi cenderung lebih mampu menjauh dari pelaku dan membangun kehidupan yang lebih aman.

“Tidak hanya itu, keadilan ekonomi juga menjadi bagian dari proses pemulihan. Melalui aktivitas produktif, penyintas dapat membangun kembali rasa percaya diri, harga diri, dan identitas diri sebagai individu yang mampu, bukan hanya sekadar memberikan penghasilan.”

Menjaga Ruang Aman di Dapur Produksi
Melalui produk unggulan seperti olahan makanan ringan dan kerajinan tangan, para penyintas tidak hanya diajarkan cara memiliki pendapatan, tetapi juga cara menemukan kembali identitas diri. Di dapur yang dirancang sebagai safe space (ruang aman) ini, tidak ada penghakiman—hanya ada dukungan dan rasa kebersamaan. Setiap orang diterima tanpa stigma dan komentar merendahkan. Semua proses belajar dihargai, sekecil apa pun.

Penyintas dan pendamping juga berkomunikasi dengan saling mendukung dan memahami, termasuk menjaga rahasia dan menghormati batasan. Kartini Manakarra memastikan akan selalu ada pendamping yang siap membantu jika ada penyintas yang membutuhkan. 

“Dengan pendekatan ini, dapur produksi tidak hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga menjadi ruang untuk pulih, tumbuh, dan merasa aman menjadi diri sendiri.”

Transformasi Penyintas untuk Lebih Berdaya
Selain peningkatan pendapatan, perubahan paling signifikan terjadi pada aspek psikologis, sosial, dan cara pandang hidup. Saat mereka belajar keterampilan baru, penyintas kembali menemukan kepercayaan diri saat berani berbicara, menyampaikan pendapat, dan mengambil keputusan dalam hidupnya, yang terpenting saat mereka merasa dihargai dan didengar. Mereka tidak lagi memandang diri sebagai korban, melainkan individu yang mampu berkarya dan berdaya.

Sedangkan bagi lembaga, kegiatan ini turut berfungsi sebagai sumber pendanaan alternatif demi keberlanjutan program, khususnya dalam membiayai layanan bagi penyintas, seperti penyediaan rumah aman, pendampingan, dan kegiatan pemulihan. Hal ini juga memperkuat posisi lembaga sebagai penyedia layanan sosial sekaligus motor penggerak pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas.

Investasi untuk Hidup Mandiri
Berbicara mengenai bantuan, Kartini Manakarra memiliki pandangan sendiri. Fokus mereka bukan sekadar memberikan bantuan berupa uang, melainkan berupa pelatihan dan lapangan pekerjaan.

Bagi lembaga, ada perbedaan mendasar terkait keduanya. Memberi bantuan uang biasanya bersifat jangka pendek dan respons darurat. Penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak, namun sering kali tidak menyelesaikan akar masalah. Sedangkan dengan membuka lapangan kerja, penyintas tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk bekerja, belajar keterampilan, dan menghasilkan pendapatan sendiri secara mandiri.

“Bantuan uang membantu bertahan, sementara lapangan kerja membantu penyintas bangkit dan mandiri secara berkelanjutan. Lebih dari sekadar ekonomi, membuka lapangan kerja juga berdampak pada pemulihan psikologis dan sosial. Penyintas merasa lebih percaya diri, memiliki peran, dihargai, dan mampu mengontrol arah hidupnya. Mereka tidak lagi berada pada posisi pasif sebagai penerima bantuan, tetapi menjadi individu yang aktif dan berdaya,” Dian menambahkan

Peluang Kolaborasi Berdampak
Kartini Manakarra saat ini memiliki beberapa produk dan inisiatif unggulan mulai dari olahan makanan, kerajinan tangan, dan produk kreatif lainnya yang memiliki nilai jual. Produk-produk ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga menjadi simbol proses pemulihan dan kemandirian penyintas.

Selain itu, guna memperluas dampak dan kebermanfaatan bagi para penyintas, Kartini Manakarra menawarkan peluang kolaborasi dalam layanan pendampingan kasus, kampanye sosial, dan kegiatan advokasi, termasuk program peningkatan kesadaran publik tentang perlindungan perempuan dan anak.

Hingga saat ini, mereka telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, lembaga layanan (kesehatan dan hukum), hingga komunitas lokal. 

Ke depannya, Kartini Manakarra sangat terbuka untuk memperluas jangkauan kolaborasi melalui kemitraan dalam bentuk program, dukungan pemasaran produk, Corporate Social Responsibility (CSR), dan kegiatan sosial lainnya.

***

Catatan: Kartini Manakarra merupakan salah satu OMS Mitra Penerima Hibah Ananta Fund pada Siklus Hibah ke-3, "Inkubasi Pengembangan Bisnis untuk Mendukung Keberlanjutan Organisasi," pada 2025 lalu. Kegiatan lembaga ini berfokus pada kesetaraan dan keadilan gender serta perlindungan hak-hak perempuan dan anak.

Informasi kontak:
Instagram: manakarrakartini
Email: [email protected]

Share
Facebook
fb-share-icon
X (Twitter)
Post on X
fb-share-icon
WhatsApp
Related Articles
News
Perjuangan Kartini Manakarra Memutus Rantai Kekerasan Perempuan
24 April 2026
dana hibah, kesetaraan gender, organisasi masyarakat sipil, peningkatan kapasitas
News
Corporate Gathering: Kolaborasi untuk Konservasi Berkelanjutan
18 December 2025
News
SEKOCI, Program OMS di Wilayah Pesisir. Apa Itu?
16 December 2025
Ananta Fund | Yayasan KEHATI
Jl. Benda Alam I No.73, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12560
call
Tel. (+62-21) 7834-2866
Fax. (+62-21) 7834-2214
mail
[email protected]
About Us KEHATI Foundation Privacy Policy Website Terms & Conditions
©2024 Ananta Fund. All rights reserved.
Categories:

Post navigation

← Perjuangan Kartini Manakarra Memutus Rantai Kekerasan Perempuan
  • Recent Posts

    • Recent Comments

      No comments to show.
    © 2026 ANANTA FUND
    • ID
    • EN