
Di Kelurahan Kamahedoga, Merauke, Papua Selatan, ruang kelas adalah hamparan semesta, dan ilmu adalah setiap jengkal tanah adat yang mereka pijak. Bagi Papua Paradise Center, menyediakan pendidikan bukan hanya mentransfer pengetahuan di dalam ruang kotak yang sering kita sebut sebagai kelas. Ia adalah upaya penyelamatan identitas.
Papua Paradise Center bergerak di 3 bidang, yaitu bidang pendidikan dan pelatihan berbasis alam, bahasa, seni dan budaya Papua; bidang ekonomi kerakyatan berbasis UMKM dan ecosociopreneur; serta bidang hutan dan lingkungan. Sebagai wujud nyata dalam menyediakan akses pendidikan bagi anak-anak Papua, mereka mendirikan Sekolah Alam Paradise, sebuah sekolah kontekstual yang lahir dari rasa cinta mendalam terhadap alam dan tanah di Bumi Cendrawasih.
“Sebagai orang asli Papua, kami mengakui sungguh bahwa alam adalah sumber utama ilmu pengetahuan menyangkut nilai-nilai hidup, bahasa, budaya, seni, dan kearifan lokal itu sendiri,” kata Yune Angel Rumateray, Koordinator Program Papua Paradise Center.
Alam sebagai Guru dan Sumber Kehidupan
Papua Paradise Center memilih sekolah kontekstual sebagai metode pendidikan karena hubungan mereka yang erat dengan alam. Di Papua, tanah digambarkan sebagai “ibu”, sumber kehidupan yang harus dijaga. Sekolah Alam Paradise menyediakan sistem pembelajaran yang menyenangkan. Matematika tidak diawali dengan angka-angka di atas kertas. Anak-anak belajar menghitung dengan cara memungut daun dan ranting yang berada di hutan mangrove samping sekolah.
Tak hanya mempelajari mata pelajaran umum seperti membaca, menulis, bahasa Inggris dan bahasa daerah, Malind, sekolah alam ini juga mengajarkan nilai kehidupan melalui pembelajaran:
- Kelas Inspirasi yang menghadirkan perwakilan dari berbagai profesi untuk berinteraksi dengan siswa;
- Ecoedukasi belajar mengenai pengelolaan sampah jadi ecobrick, kampanye pengelolaan sampah, bercocok tanam sayuran di polybag, dan pembuatan pupuk kompos;
- Ecosociopreneur mengajarkan kewirausahaan berbasis lingkungan dan sosial;
- Menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama Merauke untuk materi pendidikan karakter anak;
- Pembelajaran tentang kesehatan mental dan keterampilan;
- Bahasa isyarat bekerja sama dengan komunitas tuli di Merauke; dan
- Menggunakan metode Natural Awareness Education sebagai tahap ujian akhir, mencakup: cara bertahan hidup di hutan, membangun tenda, membuat tungku api, memasak dengan pangan lokal, dan materi lain untuk mendapatkan hadiah sebagai tanda kelulusan.
Melalui sekolah kontekstual, anak-anak dinilai lebih menghargai dan menjadikan alam sebagai sahabat untuk memperoleh banyak pengetahuan.

Potret Pendidikan Sekolah Alam Paradise
Sekolah Alam Paradise telah beroperasi selama lima tahun secara gratis, tanpa memungut biaya. Saat ini mereka memiliki 132 siswa dengan 90% adalah anak asli Papua. Mereka dikelompokkan ke dalam empat jenjang usia: Kelas Bibit (3-6 tahun), Kelas Tunas (7-9 tahun), Kelas Ranting (10-13 tahun), dan Kelas Pohon (14-16 tahun). Kegiatan belajar mengajar diadakan tiga kali seminggu, yaitu setiap hari Kamis, Jumat, dan Sabtu, dari pukul 15.00 hingga 17.00 WIT.
Sekolah ini tidak memiliki kurikulum baku; materi dan jadwal pembelajaran ditetapkan melalui diskusi bulanan antar guru. Saat belajar, mereka menerapkan pendekatan khusus untuk menanamkan rasa hormat terhadap lingkungan pada anak-anak, melalui kewajiban mengucapkan semboyan 3S (Sang Pencipta, Sesama, dan Semesta) di awal dan akhir kelas, penggunaan bahasa ibu, dan menyanyikan lagu Tanah Papua untuk menumbuhkan kecintaan pada tanah kelahiran. Sekolah juga secara berkala memutar film tentang hutan adat dan dokumentasi lapangan yang diperjuangkan oleh Papua Paradise Center. Dokumentasi tersebut meliputi pemetaan wilayah adat, potensi sosial, pangan lokal, dan benda-benda budaya yang bertujuan untuk memperkaya pengetahuan.
Sekolah Alam Paradise menjunjung tinggi inklusivitas dan semangat kebersamaan, memperlakukan semua anak dengan setara tanpa memandang status mereka—baik yang bersekolah formal maupun yang putus sekolah.
Sering kali masalah putus sekolah di wilayah ini bukan karena keinginan anak, melainkan karena adanya kendala administratif seperti tidak adanya Kartu Keluarga (KK) yang merupakan syarat Data Pokok Pendidikan (Dapodik) di sekolah formal.
“Selain itu, tantangan terbesar adalah karena orang tua tidak lagi menempatkan pendidikan sebagai tujuan utama. Anak-anak lebih membutuhkan makanan untuk bertahan hidup dibanding pergi ke sekolah dalam keadaan lapar,” lanjut perempuan yang sering disapa Une tersebut. Kadang anak-anak harus membantu orang tua pergi ke sungai dan hutan untuk mencari makan.
Menjadi Sahabat untuk Setiap Celoteh Anak
Belajar di Sekolah Alam Paradise menjadi momen yang selalu dinantikan anak-anak. Antusiasme yang tinggi terlihat dari semangat belajar mereka yang selalu menanyakan kapan jadwal sekolah akan dimulai kembali.
“Mereka selalu menggunakan handphone orang tua untuk menghubungi kami dan menanyakan kapan kami belajar lagi, pertanyaan itu secara berulang (ditanyakan) saat kami liburan Paskah dan Lebaran kemarin. Itu pertanda bahwa sekolah alam selalu dirindukan sebagian besar anak-anak, ada lagi anak-anak yang datang ke kantor dan langsung menanyakan kapan aktif belajar lagi. Semangat bersekolah di Sekolah Alam Paradise membuat anak-anak datang lebih awal,” jelas Une.
Tak hanya anak-anak, orang tua juga sangat mendukung kegiatan belajar anak-anak mereka di sekolah alam, termasuk berpartisipasi dalam penyediaan atribut budaya seperti mahkota kepala dan cawat/rok bagi anak-anak saat mengikuti kelas budaya.
Anak-anak juga sering memanfaatkan kelas kesehatan mental untuk menceritakan kejadian yang mereka alami di rumah hingga perundungan.
“Anak-anak usia Ranting dan Pohon selalu menjadikan kami tempat curahan hati, mereka sering menangis terisak-isak. Kami selalu menjadi telinga dan sahabat yang baik bagi mereka. Treatment yang kami lakukan untuk anak-anak yang sulit bercerita adalah dengan menulis.”
Merawat Bahasa yang Hampir Punah
Salah satu misi penting Papua Paradise Center adalah mendokumentasikan bahasa Malind, yang merupakan bahasa suku asli Kabupaten Merauke. Upaya ini mendesak karena Balai Bahasa Papua telah menyatakan bahasa Malind berada di ambang kepunahan.
Meskipun mendapat dukungan dari para tua adat yang bersedia berbagi pengetahuan, mereka tetap menghadapi kendala berupa pendanaan dan akses geografis.
“Tantangannya adalah kami memiliki banyak ide tapi kekurangan dana untuk membuat banyak buku saku anak dan flashcard berbahasa daerah. Kami juga perlu turun ke lapangan untuk melakukan pendataan dan inventarisasi karena wilayah Malind ini sangat luas dengan medan yang sangat sulit,” jelas Une.
Sebagai langkah konkret untuk menjaga kelestarian bahasa, anak-anak Sekolah Alam Paradise diwajibkan menggunakan bahasa Malind dalam sapaan sehari-hari kepada guru dan sesama teman sekolah.
Seruan Pendidikan dari Tanah Papua
Di momen Hari Pendidikan yang diperingati setiap 2 Mei, Papua Paradise Center menitipkan pesan mendalam untuk pendidikan di Papua. Bagi anak Papua, hutan, sungai, dan pantai adalah tempat belajar yang tak tergantikan.
"Kami anak Papua tidak bisa dipisahkan dari alam yang menjadi rumah belajar kami. Hargailah rumah kami. Menghilangkan rumah belajar kami sama dengan menghilangkan kami,” tegas Une.
Kini, Papua Paradise Center terus berjuang di tengah keterbatasan operasional dan minimnya akses. Untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas di Papua, mereka membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, agar di masa depan, anak-anak Malind tetap bisa berdiri tegak, berbicara dalam bahasa daerahnya, dan menjaga “ibu”.
***
Catatan: Papua Paradise Center merupakan salah satu OMS Mitra Penerima Hibah Ananta Fund pada Siklus Hibah ke-3, "Inkubasi Pengembangan Bisnis untuk Mendukung Keberlanjutan Organisasi," pada 2025 lalu. Kegiatan lembaga ini berfokus pada kesetaraan dan keadilan gender serta perlindungan hak-hak perempuan dan anak.
Informasi kontak:
Instagram: papua.paradisecenter
Email: [email protected]